Tafsir Surah Al-Ikhlash

Posted: Mei 22, 2011 in KAJIAN TAFSIR AL-QURAN

[ Jika menghendaki file PDF, silahkan download di menu DOWNLOAD eBook ]

Surah al-Ikhlash merupakan surah yang ke-112 di dalam mushhaf al-Quran al-Karim. Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits shahih, surat pendek ini menyamai sepertiga al-Quran. Hal ini tidak aneh jika kita tinjau dari segi kandungannya. Tema utama surah ini adalah tentang hal yang paling prinsipil dalam Islam, yakni tauhid. Al-Ikhlash sendiri, yang menjadi nama bagi surat yang mulia ini, berarti keikhlasan hati dalam memurnikan tauhid kepada Allah subhaanahuu wa ta’aalaa. Sementara tema tauhid merupakan sepertiga kandungan Al-Qur’an, dimana kandungan Al-Qur’an itu secara umum mencakup tiga perkara : tauhid (aqidah), syariah (hukum-hukum), dan akhlaq.

Selanjutnya, mengkaji tentang sebab turunnya surah al-Ikhlas ini, diriwayatkan dari ‘Ubay bin Ka’ab bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai Muhammad, sebutkan kepada kami nasab tuhanmu”.

Maka Allah pun menurunkan Qul huwallahu ahad (dan seterusnya sampai akhir surah al-Ikhlas) (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Adapun keutamaan surat ini antara lain tergambar dalam beberapa riwayat, diantaranya sebagai berikut :

Pertama, dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menjadi komandan dalam sebuah ekspedisi perang. Setiap kali sang komandan tersebut menjadi imam sholat, dia menutup bacaannya dengan Qul huwallaahu ahad (QS. al-Ikhlash). Ketika kembali, para sahabat yang menyertainya menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Muhammad shallalalahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi bersabda :

“Tanyakan kepadanya mengapa ia melakukan hal itu !”

Dan ketika hal itu ditanyakan, ia menjawab : “Surat ini (berisi) sifat-sifat Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) dan aku suka membacanya”.

Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’aalaa mencintainya”. (HR Bukhari, Muslim, dan Nasai)

Kedua, dalam riwayat Anas radhiyallaahu ‘anhu, diceritakan juga kisah serupa dimana seorang sahabat Anshar, ketika menjadi imam, senantiasa membuka bacaannya dalam sholat dengan surah al-Ikhlash lalu mengikutinya dengan surat yang lain. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, dia menjawab, “Karena aku mencintai surat ini”.

Maka Nabi pun bersabda : Kecintaanmu kepada surah tersebut telah memasukkanmu ke dalam Surga” (HR Bukhari)

Ketiga, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, bahwa seseorang mendengar sahabatnya membaca berulang-ulang surah al-Ikhlash (dalam sholat malam). Maka ia pun menyampaikan hal itu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seolah-olah meremehkan yang demikian itu.

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda : “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat itu menyamai sepertiga Al-Qur’an” (HR Bukhari).

Keempat, dalam riwayat lain dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyalalahu ‘anhu, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat :

“Tidakkah salah seorang dari kalian mampu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam?”

Maka hal itu pun terasa berat bagi mereka, sehingga mereka berkata, “Siapa yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab bahwa “surah al-Ikhlash menyamai sepertiga Al-Qur’an” (HR Bukhari).

Dan Kelima, dalam hadits riwayat Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa , bahwasanya jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersiap untuk tidur setiap malam, maka beliau mempertemukan kedua telapak tangannya dan meniup pada keduanya seraya membaca surah al-Ikhlash, surah al-Falaq, dan surah An-Naas lalu mengusapkannya ke seluruh bagian badannya dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan badan beliau. Dan beliau mengulang yang demikian itu tiga kali (HR. Bukhari dan Ashabus Sunan).

Inti dari kandungan surah al-Ikhlash terdapat dalam ayat pertama yang menegaskan tentang kesaan Allah Ta’aalaa, sementara ayat-ayat berikutnya merupakan penjelasan yang menegaskan makna ayat pertama tersebut. Jadi, Allah adalah Maha Esa dalam rububiyah, uluhiyah, asma’ dan shifat-Nya. Jika kata wahid (satu) memungkinkan adanya yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, maka tidak demikian halnya dengan kata ahad (maha esa) yang berarti hanya satu tanpa ada yang lainnya. Oleh karena itulah, surat ini disebut dengan surah al-Ikhlash (Surat At-Tauhid wa At-Tanzih) yang berintikan pemurnian tauhid kepada Allah Ta’aalaa dengan cara menyucikan Dzat, Nama, dan Sifat-Nya dari segala makna kekurangan, kelemahan, cacat, keserupaan dengan makhluq dan segala bentuk penyekutuan (syirik).

Ayat kedua merupakan penjelasan atas ayat pertama dalam hal keesaan Allah Ta’aalaa, yang menegaskan bahwa Allah itu Maha Sempurna dalam Dzat dan Sifat-sifat-Nya, sehingga sama sekali tidak membutuhkan kepada yang lain, tetapi justru segenap yang lainnya mesti butuh dan bersandar kepada-Nya dalam segenap keperluannya.

Ayat ketiga, disamping berisikan penegasan tentang keesaan dan kemahasempurnaan Allah, dan penafian segenap kelemahan serta cacat dari Sifat-sifat-Nya, juga merupakan bantahan telak terhadap semua orang yang menyekutukan Allah Ta’aalaa dengan menjadikan bagi-Nya anak, yakni orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah (QS. At-Taubah : 30), dan juga orang-orang musyrik Arab yang mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah (QS. An-Nahl : 57).

Ayat terakhir menegaskan salah satu konsekuensi dari makna tauhid, yakni penafian segenap bentuk penyekutuan dan penyerupaan terhadap Allah sekaligus bantahan terhadap semua orang yang menyekutukan Allah (musyrikin) dan yang menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya (musyabbihin). Penafian dan bantahan serupa juga terdapat dalam banyak ayat yang lain, antara lain

Firman Allah (yang artinya) : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syura : 11).

Ayat ini juga merupakan bantahan terhadap semua orang yang menafikan sifat-sifat Allah (mu’aththilin).

Demikianlah, surat Al-Ikhlash ini meskipun pendek tetapi memuat intisari dari risalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bahkan seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalam, yakni tauhid.

Wallaahu A’lam Bishshowaab, semoga bermanfaat !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s